Tapi di buku absensi, Bu Ratna tidak langsung menulis “H”. Ia menutup buku itu sejenak, lalu berbisik, “Nak, kamu kuat?”
Bu Ratna menghela napas panjang. Ia menuliskan keterangan “S” (Sakit—keterangan untuk keluarga) dengan agak menekan. Di dalam hati, ia khawatir. Bukan hanya soal nilai, tapi tentang beban yang dipikul gadis seusia Jasmine.
Suatu Senin pagi, hujan deras mengguyur kota. Bu Ratna sudah siap dengan pulpen merahnya. “Jasmine,” panggilnya, tanpa perlu menengok ke bangku kosong di pojok belakang. “Hari ini izin lagi?” absensi jasmine
Jasmine menggeleng pelan. Air matanya jatuh. Ruang kelas hening.
Dan Jasmine? Ia lulus dengan nilai yang biasa saja, tapi ia tumbuh menjadi wanita yang kelak, di tempat kerjanya, akan selalu memperhatikan rekan yang paling sunyi, dan diam-diam menuliskan titik kecil di hatinya untuk mereka. Absensi bukan sekadar catatan hadir atau tidak. Kadang, di balik sebuah nama, ada kisah yang butuh dilihat, bukan sekadar dicoret. Tapi di buku absensi, Bu Ratna tidak langsung
Hari Selasa, Jasmine hadir. Rambutnya diikat sedikit acak, matanya sembab. Ia tersenyum tipis saat Bu Ratna menyebut namanya. “Hadir, Bu,” katanya lirih.
Sejak hari itu, Bu Ratna membuat peraturan baru di kelasnya: setiap pagi, sebelum absensi dimulai, semua siswa diminta menulis satu kata tentang perasaannya di selembar kertas kecil, tanpa nama. Lalu Bu Ratna mengumpulkannya. Bukan untuk dihukum, tapi untuk dibaca. Di dalam hati, ia khawatir
Dan setiap kali ada kertas bertuliskan atau “takut kehilangan” dengan tulisan miring khas Jasmine, Bu Ratna akan mengangguk kecil, lalu di buku absensi, di samping nama Jasmine, ia menuliskan bukan hanya “H” atau “I” atau “S”, tapi sebuah titik kecil—tanda bahwa ia melihat, ia memahami, dan ia hadir untuk Jasmine, lebih dari sekadar angka kehadiran.